Sabtu . 21 Oktober 2017

Menjaga Industri Sawit dari Gempuran Boikot Eropa

2017-07-28

Prancis akan memberlakuan pajak impor progresif minyak kelapa sawit. Produk yang mengandung palm oil, palm kernel oil, dan coconut oil akan dikenakan pajak progresif. Indonesia dan malaysia merasa peratuan tersebut bersikap diskriminatif karena tidak diterapkan terhadap produk nabati yang dihasilkan Eropa. Kontribusi industri minyak sawit terhadap perekonomian Indonesia cukup signifikan.

Sawit Sebagai Lumbung Devisa

Setiap orang yang menjabat sebagai Mendag pasti resah jika ada kampanye negatif atau boikot atas sawit Indonesia. Ini dikarenakan kontribusi industri minyak sawit terhadap perekonomian Indonesia cukup signifikan. Sawit merupakan salah satu lumbung devisa ekspor utama di sektor non migas.

Sektor ini juga menyumbang tenaga kerja langsung dan tak langsung yang sangat tinggi. Jumlah tenaga kerja termasuk petani dan mata rantai industri kelapa sawit lainnya mencapai lebih 5 juta orang. 

Gemuknya Pasar Sawit di Eropa

Gusarnya pemerintah atas maraknya “kampanye hitam’ terhadap sawit di Eropa bukan tanpa alasan. Selama ini, Eropa merupakan pasar sawit terbesar kedua bagi Indonesia. Urutan pertama pangsa pasar sawit Indonesia masih diduduki Asia, terutama disumbang dari pasar India dan Cina.

Di tengah kampanye negatif dan boikot, sawit Indonesia masih kuat bercokol di pasar Eropa. Nilai ekspornya tidak surut. Namun, kondisi ini justru bakal memicu makin gencarnya upaya menghambat pasar sawit di Eropa, adanya pemberlakuan anti dumping duty dan rencana pajak impor yang progresif seperti yang akan berlaku di Prancis bakal mengancam sawit Indonesia.

sumber : tirto.id