Sabtu . 21 Oktober 2017

Petani Labusel Kelola Gambut Hasilkan Sawit Berproduksi Tinggi

2017-08-28

Kelompok petani di Labuhanbatu Selatan (Labusel) Sumatra Utara mampu mengubah lahan gambut menjadi perkebunan sawit. Produktifitas buah sawit yang dihasilkan terbilang tinggi sekitar 23 ton per hektate per tahun. Aturan Moratorium gambut meresahkan masyarakat setempat.

Cerita mengenai gambut identik dengan kerusakan dan kebakaran lahan. Masyarakat yang hidup di areal gambut juga menjadi korban dari cerita ini. Apabila kebakaran lahan melanda, masyarakatlah yang dituding sebagai pemicu api itu. Itu sebabnya, gambut ibarat buah khuldi yang terlarang untuk dipakai khususnya bagi perkebunan sawit. Cerita berbeda datang dari labuhan batu selatan tepatnya di Desa Teluk Panji Kecamatan Kampung Rakyat. Seluruh lahan di desa ini adalah tanah gambut.penduduk desa mayoritas petani transmigrasi yang datang di awal tahun 1990-an. Mereka berkerja sebagai petani mitra PT Abadi Budi Mulia. Kebun plasma terbagi empat Satuan Pemukiman (SP) mulai SP I sampai SP IV.

"Diawal pembukaan, kebun plasma diperuntukan kepada 1500 kepala keluarga. Selain itu, dialokasikan juga tempat pemukiman supaya tidak jauh dari kebun," ujar Heri Susanto. Petani plasma yang juga Ketua KUD Panji Rukun SP-2.

Heri menceritakan bahwa masing-masing kepala keluarga mendapatkan lahan di atas gambut seluas dua hektar lahan untuk kebun plasma. Areal perumahan seluas 0,5 hektare. Kala itu, tanah gambut dipakai untuk sawit katena tidak ada alternatif lain. Faktir lainya, kami mesti memenuhi keburuhan sehari-hari," kata Heri.

PT Abadi Budi Mulia adalah Perusahaan Inti Rakrat (PIR) Trans di Desa Teluk Panji, Kecamatan Kampung Rakyat. Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Proyek ini mengikuti instruksi Presiden Nomor 2/1988. Penanaman lahan plasma dimulai perusahaan tahun 1993. Total lahan plasma yang dibangun seluas 3.000 hektare untuk 1.500 KK dengan kondisi tanaman menghasilkan.

Mengelola lahan gambut bukan perkara mudah. Tantangan ini disadari oleh perusahaan dan petani plasma. Untungnya, petani di desa ini mendapatkan prndampingan PT Abadi Budi Mulya. Pendampingan ini  menjadi kebutuhan karena kedalaman gambut di desaini lebih dari dua meter. Perusahaan menjadi bapak angkat kami. Tetapi setelah konversi kebun plasma  kepada petani peserta, kami tetap bisa mengelola lahan," ujar Heri.

Selepas tidak dibawah bimbingan bapak angkat, Heri dan kawan-kawan belajar otodidakperawatan kebun. Hingga sekarang belum ada penyuluh perkebunan datang kedesa mereka untuk memberikan bimbingan teknis. Haji Jarno, petaninplasma Labuhan Selatan, menjelaskan praktik kultur.

Teknis berbekal pengalaman di lapangan. Tidak pernah tahu teori. Kami coba terapkan perawatan (kebun) di laangan," ujar jarno yang juga menjabat ketua KUD Karya Maju SP-1.

Dalam hal pemupukan, petani rutin menyebar pupuk setiap empat bulan sekali. Ini artinya, setahun tanaman dapat di pupuk sebanyak tiga kali. Menurut Jarno, dosis pemupukan sengaja dilebihkan tidak sesuai rekomendasi. "Pupuk kami berikan over tebukti malahan hasil panen malahan banyak," ujarnya.

Pengalaman lainya adalahmengatasu penyakit daun sawit yang menguning, Jarno menyebutkan tanaman cukup diberi abu janjang sawit tidak perlu dipotongin daunya. Setelah duberi abu janjang panen sawit akan kembali meningkat. Hasil rata-rata produksi sawit Desa Teluk Panji cukup mencenangkan walaupun diatas lahan gambut.

Sebagagai gambaran, rata-rata produksi TBS tahun 2014 sebanyak 23,5 ton per hektare pertahun dan tahun 2015 meningkat menjadi 24,1 ton oer hektare per tahun. Sempat turun menjadi 23,4 ton per hektare per tahun pada 2016. Rata-rata produksi ini berasal dari hasil produksi empat KUD yang berada di Desa Teluk Panji yaitu KUD Karya Maju-SP.1, KUD Panji Rukun-SP.2, KUD Sentosa-SP.3, dan KUD Suhur Makmur-SP.4

Heri Susanto menyebutkansaat ini lahan gambut yang sebelumnya yang benilai ekonomis rendah setelah ditanam sawit menjadi lahan produktif bernilai tinggi bernilai tinggi sebesar Rp 150 juta per hektare. Pendapatan petani bervariasi antara Rp 66 juta sampai Rp 92 juta dalam setahun.

Saat ini, perusahaan merencanakan peremajaan tanaman yang telah berusia tua pada tahun 2020. Tetapi Heri dan kawan-kawan merasa gusar dengan peraturan pemerintah seputar gambut. Dikhawatirkan petani di desanya tidak dapat lagi menanam sawit di atas gambut. "Kami berani tunjuk data akurat terkait kontribusi petani dalam membayar pajak. Kalau tidak boleh menanam sawit di atas gambut, lalu anak cucu kami mau di bawa kemana?" Kata jarno merasa gusar.

Justru, menurut jarno pemerintah membantu petani sawit dilahan gambut. "Sebab, pengelolaan lahan gambut memerlukan modal banyak. Kenapa kami berhasil? Karena kami mendapatkan dukungan dan bantuan dari perusahaan. Semestinya yang melakukan ini adalah pemerintah untuk membantu masyarakat," tegasnya. Heri meminta supaya ada forum untuk berbagi pengalaman dari petani sawit langsung untuk melawan  segala bentuk kampanye hitam tentang sawit. "Buktinya kami tidak menganggap dampak negatif dari sawit, itu bukti empiris yang kami terima itu. Bahkan kami kami merasa terbantu dari sektor pendidikan, dari sektor spriritual, dari segi kesehatan, dan transportasi," imbuhnya.

Sayangnya, hal ini pun luput dari Kementrian kehutanan dan lingkungan hidup (KLHK). Menurutnya tidak ada pernah sekali pun ada bantuan atau sekedar kunjungan dari KLHK." Dari dinas dinas perkebunan paling hanya promosi bibit. Tapi buat apa? Kita sudah mandiri. Kita sudah memiliki koprasi sendiri. Kita mengajukan ke pemerintah kalau ada pendidikan-pendidikan masalah sawit tolong kita dipanggil. Kami siap mandiri makanya kami sangat ingin berjumpa dengan pak presiden terhadap masalah ini.

Ditempat terpisah, kalangan petani mendesak pemerintah untuk merevisi Peraturan Mentri (Permen) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) nomor P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 Tentang Pedoman Teknis Pemulihan Fungsi Ekosistem Gambut karena berpotensi menggangu kemandirian ekonomi nasiaonal akibat berkurangnya luasan perkebunan sawit rakyat yang telah ada ratusan tahun lalau.

Menurut Asmar Arsvad, Sekjen Apkansindo, penerapan permen kontriversial itu mempunyai multiplier effect yang berakhirnya pada rusaknya tatanan kemandirian ekonomi nasional. Ini lonceng kematian bagi perkebunan sawit rakyat. Bakal terjadi chaos karena turunya seperti pendapatan asli daerah meningkatnya pengangguran, serta beragam konflik sosial." Ini permen paling emosional karena tidak menunjukan keberpihakan terhadap rakyat," kata Asmar. Saat ini perkebunan sawit di Sumatra Utara telah berkembang. Ada fasilitas jalan yang memadai diseluruh pelosok hingga hasil panen terjamin kialitasnya." Ini merupakan bagian keberhasilan dari program petani rakyat yang perlu di apresiasi," kata Asmar.

(Virdika Rizki Utama/Qayuum)

sumber : SAWIT INDONESIA (15 Agustus - 15 September)