Sabtu . 16 Desember 2017

Kunjungan Gapki Kalbar ke Tribun Pontianak

2017-10-02

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar) Kalbar, Mukhlis mengungkapkan perkebunan kelapa sawit sangat berperan terhadap perekonomian masyarakat Kalbar.
Bahkan ia mengatakan adanya perkebunan kelapa sawit mampu mengentas kemiskinan karena mengurangi pengangguran.
"Yang bekerja langsung banyak, bisa dibayangkan perkebunan kelapa sawit ini memberikan dampak. Kaitannya dengan plasma, jika 20 persen dari 1,4 juta artinya milik petani 200 hektar. Itu yang dikerjakan dari perusahaan. Jika dihitung ada sejuta lebih individu yang bergantung dengan sawit, " ujar Mukhlis saat mengunjungi Kantor Tribun Pontianak, Jalan Sungai Raya Dalam pada Jumat (25/8/2017).
Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar) Kalbar, Moses mengatakan dengan berbagai keunggulan yang dimiliki sawit dan turunannya maka sawit layak menjadi icon Kalbar.
Bahkan hal tersebut ia ungkapkan saat pertemuan dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu.
"Sawit bisa menjadi icon Kalbar. Tinggal mau bagaimana mengembangkan sawit dengan turunannya. Kita coba cari terobosan-terobosan agar sawit jadi icon Kalbar. Untuk harga menurut prediksi masih stagnan, bagus dan masih ekonomis. Harga masih aman jika diatas Rp7000. Setahun terakhir harganya masih aman. Pernah dibawah Rp7000 pada 2015 lalu," ujarnya.
Ternyata kata Moses tandan kosong bisa di abstrak menjadi energi tebarukan.
Kerjasamanya pun akan dilakukan dengan PLN dan akan dicoba di Balai Karangan.
Sehingga masalah lingkungan yang saat ini dihadapi kata dia bisa teratasi.
Dari limbah ini juga bisa menghasilkan gas meta yang bisa diolah menjadi energi juga rencananya akan dikembangkan di Meliau.
"Turunan dari kelapa sawit banyak, bisa tandan kosong, buah, cangkang. Masih banyak yang bisa membuat semuanya bernilai tambah, tinggal aturannya direvisi. Jika minjam ke bank kalau bisa janganlah seperti industri lain. Pelepah sawit saat ini juga dibutuhkan oleh China, kita kedatangan tamu dari kanada ternyata tandan kosong bisa jadi aptur dan malaysia airline udah pakai dengan kategori A1 standar amerika," ujarnya.
Patahkan Persepsi Negatif Sawit
Sekretaris Executive Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar), Idwar Hanis mengatakan perkebunan kelapa sawit memberi dampak strategis bagi perekonomian Kalbar.
Ia menyebut di Kalbar hanya 10 persen dari keseluruhan area yang ditanami sawit.
"Banyak yang tidak suka dengan sawit padahal perannya sangat strategis. Berapa banyak desa di Kalbar yang terbuka dari yang sebelumnya terisolasi. Jika kita melihat dari tren pertumbuhan sawit luar biasa. Dari yang hanya ratusan hektar sekarang pertumbuhannya luar biasa," ujar Idwar pada Jumat (25/8/2017).
Seiring dengan isu yang berkembang di masyarakat GAPKI Kalbar menepis lahan sawit memberikan dampak negatif.
"Jika kita lihat areal Kalbar sekitar 14 juta artinya baru sekitar 10 persen. Kalau dari lahan yang dibudidayakan Kalbar ini sekitar 6 juta lahan budidaya. Jadi baru sekitar 20 persen lahan di Kalbar yang digarap, " ujarnya.
Perlu diklarifikasi kata Idwar bahwa sawit hanya bergerak di lahan yang dibudidayakan.
Artinya ada atau tidak adanya sawit lahan ini kata dia tetap dibididayakan misalnya untuk padi, jagung dan lainnya.
Bahkan keberadaan sawit tak mempengaruhi orang hutan karena 80 persen hutan, tetap hutan baik produksi, industri maupun lindung.
"Jangan sampai salah persepsi. Makanya untuk periode GAPKI hingga periode 2020 lebih banyak membangun eksistensi dan mengingatkan peran kita di kabupaten. Pemda akan mengkonsolidasikan izin yang ada. Dalam waktu dekat kita akan ke Sambas dalam kaitannya mengembangkan sawit yang berkelanjutannya," ujarnya.
Pihaknya juga terus meningkatkan managerial skill anggota untuk menangkal isu yang berkembang dan terkesan merugikan berbagai pihak.
"Semua kabupaten sudah kita sounding tinggal menunggu waktu. Kita ingin semua mengawal, 10 tahun terakhir perkembangan luar biasa. Bukan karena pelakunya banyak tetapi karena iklim yang diciptakan cukup nyaman," ujarnya.
(Sumber:Maskartini-pontianak.tribunnews.com)