Minggu . 16 Desember 2018

Kelapa Sawit dan 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia

2018-08-15

MERDEKA!

Indonesia 73 tahun mengisi kemerdekaan-nya, membangun perekonomian di segala aspek. Indonesia adalah negara yang memiliki letak geografis yang sangat strategis dan dalam jalur pelayaran perdagangan antar benua.

Indonesia telah mengenal kelapa sawit jauh sebelum indonesia mengecap kemerdekaan,  dan merupakan sejarah perekonomian yang di mulai pada jaman masa penjajahan

Pada tahun 1848, pemerintahan Hindia Belanda, mendatangkan benih Kelapa sawit  ke Indonesia. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an.

di dalam sejarahnya perkebunan kelapa sawit mulai menjadi bagian perekonomian di Indonesia pada pertengahan abad  ke-19 yaitu pada saat yang meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.

Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).

Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR (Perkebunan Inti Rakyat) Program tersebut diluncurkan pada kurun waktu 1979 sampai dengan 1982. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua diAsia Tenggara yang berasal dari Afrika.

Hingga saat ini, skema kemitraan antara perusahaan dan petani telah berubah-ubah seiring perubahan kebijakan pemerintah, kemauan pihak perusahaan dan lembaga perbankan.