Minggu . 16 Desember 2018

Film Bertema Sawit Raih Tiga Nominasi di International World Cinema

2018-09-05

Kampanye positif tentang sawit adalah upaya yang harus di lakukan oleh pihak pihak terkait yang berkepantingan dalam dunia industri ini, seperti investor, pemerintah bahkan lapisan yang paling bawah sekalipun seperti petani sawit.


Film berjudul “Sigek Cokelat”, film dokumenter pendek berdurasi 15 menit tentang perkebunan kelapa sawit karya diaspora Indonesia, Ashram Shahrivar, tercatat meraih tiga nominasi untuk kategori sutradara terbaik, naskah terbaik, dan film asing pendek terbaik di London International World Cinema. Serta juga tembus di Colorado Environmental Film Festival di Amerika.
Film yang terinspirasi dari kisah nyata ini bercerita tentang industri kelapa sawit dan para pekerjanya yang berlokasi di Kalimantan Barat. Dalam wawancara yang dilakukan VOA Indonesia, Ashram Shahrivar mengungkapkan film ini mencoba untuk mengangkat para pekerja di perkebunan kelapa sawit. “Film ini bercerita mengenai satu keluarga yang memang bekerja di perkebunan kelapa sawit. Jadi cerita intim tentang gimana keluarga ini bisa di influence-lah (oleh) perusahaan-perusahaan besar yang memang mempekerjakan mereka dan gimana aku men-deliver cerita ini lewat cokelat,” papar Ashram Shahrivar saat ditemui di Los Angeles belum lama ini.
Masih tulis VOA Indonesia, cerita dalam film berdurasi 15 menit ini kemudian dituangkan oleh Ashram dan tim dengan pengantar sebatang cokelat, dimana minyak kelapa sawit sering digunakan sebagai salah satu bahan dasarnya. “Jadi memang ‘Sigek Cokelat’ itu artinya sebatang cokelat. Itu bahasa melayu, bahasa Kalimantan barat,” tutur lulusan New York Film Academy di Los Angeles, California ini.
Sebagai informasi film yang sudah didaftarkan ke total 10 film festival di seluruh dunia ini juga mengintip sekelumit dunia bisnis dari para penanam modal asing yang mencari kesempatan untuk terjun ke industri minyak kelapa sawit.
Film ini mencoba digambarkan secara menyeluruh bahkan tutur Ashram, film ini bercerita juga mengenai kebakaran hutan dan perjuangan orang lokal menghadapi kondisi tersebut. “Jadiada  perspektif dari investor, dari orang yang di atas, dan kita lihat juga perspektif orang yang di bawah, yang memang kerja di situ,” kata dia.
Dengan berbekal ilmu perfilman, Ashram kemudian mengajak teman-temannya, terutama yang tinggal di Indonesia, untuk melakukan riset tentang hal ini, hingga akhirnya terciptalah skenario film “Sigek Cokelat."
Yang menjadi tantangan bagi Ashram adalah bagaimana ia bisa memberikan pesan yang netral melalui film "Sigek Cokelat," mengingat ia juga tidak punya latar belakang sebagai seorang aktivis lingkungan.
“Aku enggak mau orang lain benar-benar melihat Indonesia itu jelek. Aku ingin coba untuk netral, karena di situ agak cukup tantanganlah, karena aku harus bisa menyeimbangkan dari sisi-sisi yang berbeda,” papar dia. (sumber: infosawit.com)