Selasa . 24 November 2020

Ekspor CPO sumber PAD bagi Kalbar

2020-10-19

Komoditas ekspor unggulan Kalbar berupa minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) menjadi satu di antara faktor yang mampu mendorong percepatan kemajuan daerah ini karena akan menjadi sumber utama yang mampu meningkatakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalbar.

PAD didapat dari pajak ekspor yang sudah bisa dilakukan di pelabuhan Kalbar, Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah. Sebelumnya pajak ekspor yang harusnya menjadi PAD Kalbar, tidak didapat karena harus melalui pintu ekspor di luar Kalbar.

Uji coba ekspor dan kali pertama pada komoditas CPO yang  telah dilakukan sejak akhir Agustus 2020 yang lalu menjadi penanda akan segera beroperasinya pelabuhan internasional yang berlokasi di Kabupaten Mempawah tersebut.

Berdasarkan data KPP Bea Cukai Pontianak, sudah dua perusahaan kelapa sawit yang melakukan ekspor CPO melalui pelabuhan internasional tersebut. Pertama adalah  PT Wawasan Kebun Nusantara pada 30 Agustus 2020 tujuan ke India, dengan volume CPO mencapai 5.000 ton. Perusahaan kedua adalah PT Energi Unggul Persada dengan volume ekspor CPO mencapai 16.000 ton tujuan ke India pada 27 September 2020.

Negara seperti Tiongkok, India dan negara-negara Asia Timur Iainnya memang menjadi pasar terbesar CPO Kalimantan Barat yang notabene lebih dekat bila ditempuh dari Pelabuhan Kijing. Jika biaya logistik dapat ditekan, maka ujungnya harga tandan buah segar (TBS) sawit akan naik. Kesejahteraan petani juga akan meningkat. Selain itu, ekspor CPO juga akan tercatat di Kalbar. Begitu pula dengan pajak ekspor juga akan masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) provinsi ini.

Karena itulah, banyak pihak mendorong percepatan operasional pelabuhan Internasional Kijing.

"Saya berharap Pelabuhan Internasional Kijing itu bisa segera beroperasi agar ekspor CPO dapat dilakukan di sana. Dengan begitu kita dapat manfaatnya, seperti adanya efesiensinya perusahaan karena biaya logistik turun dan tentu juga bisa menjadi sumber PAD bagi Kalbar karena ada pajak ekspor,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero.

Saat ini sektor perkebunan kelapa sawit tengah bergairah. Hal itu tercermin dari nilai ekspor dan harganya yang mengalami kenaikan. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono mengatakan, nilai ekspor produk minyak sawit bulan Juli 2020 mencapai USD 1,868 miliar atau sekitar 13,6 persen dari nilai ekspor nasional yang sebesar USD 13,3 miliar. “Nilai ekspor produk sawit tersebut naik USD 244 juta dibandingkan dengan nilai ekspor bulan Juni,” ungkap dia.

Kabar baik ini ditambah dengan naiknya harga CPO di pasar dunia. Mukti mengatakan, kenaikan nilai ekspor didukung oleh kenaikan harga CPO dari ratarata USD 602 cif Rotterdam pada Juni
Sementara itu, Ketua Gabungan Perusahaan Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar, Purwati Munawir mengatakan bahwa dengan terbukanya akses pelabuhan ekspor yang berada di Kabupaten Mempawah tentunya merupakan babak baru bagi persawitan di Kalbar.

“Akan ada penghematan biaya angkut  CPO jika dibandingan dengan harus diangkut terlebih dahulu dari Pelabuhan Pontianak menuju ke pelabuhan ekspor baik yang berada di Belawan maupun Tanjung priok. Dengan diekspor melalui Kalbar menjadi tambahan penerimaaan bagi petani  sawit kita,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa sawit merupakan komoditi ekspor strategis yang berperan dalam memberikan kontribusi bagi pemulihan ekonomi nasional melalui penerimaan devisa maupun PAD bagi daerah Kalbar.

Untuk itu beberapa hal yang perlu diantsipasi adalah tetap terpeliharanya iklim yang kondusif melalui regulasi yang mendukung berkembangnya industri sawit di daerah ini serta  menangkal upaya provokasi pelemahan industri sawit oleh pihak-pihak tertentu.

“Sejalan dengan itu atas nama pelaku usaha sawit Gapki Cabang Kalbar memberikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Derah Provinsi Kalbar dan kabupaten sehingga  investasi sawit dapat berkembang baik,” kata dia.