Jumat . 26 Februari 2021

Awal 2021 Harga Sawit di Kalbar Kian Membaik

2021-01-23

Tren positif harga sawit di tingkat dunia telah berdampak pada kenaikan harga Tandan Buat Segar (TBS) kelapa sawit di tinkgat petani. Awal tahun ini, harga TBS bahkan tembus Rp2.100 per kilogram. Kenaikan harga ini seiring meningkatnya permintaan minyak kelapa sawit baik dari dalam maupun luar negeri.

“Saat ini harga TBS mencapai Rp2.190an per kilogram, memang menjadi yang paling tinggi untuk saat ini jika dibandingkan dengan harga beberapa tahun terakhir,” ungkap Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalbar, Indra Rustandi.

Kendati diterpa pandemi, menurutnya, harga TBS justru terus mengalami kenaikan secara perlahan. Kondisi ini, membuat para pekebun kelapa sawit bersemangat untuk meningkatkan hasil buah meski dalam cuaca yang lebih sering hujan. “Harga bagus sehingga petani menjadi lebih semangat walau saat ini musim hujan,” jelasnya.

Dia mengatakan, kondisi hujan saat ini berdampak pada terhambatnya jalur transportasi yang digunakan untuk mengangkut TBS ke pabrik. Sulitnya medan, membuat waktu tempuh menjadi lebih lama, serta ongkos yang dikeluarkan juga lebih besar. Namun, karena bersamaan dengan naiknya harga TBS, kata dia, pekebun masih memperoleh untung.

“Memang ada kenaikan ongkos, tapi pendapatan petani bertambah karena harga TBS bagus. Pendapatan saat ini bahkan lebih dari cukup,” kata dia.

Dia berharap tren positif ini terus berlanjut, baik dari segi harga maupun penyerapan sawit. Asosiasi, kata dia, sangat mendukung kebijakan energi terbarukan B30 yang diyakini akan banyak menyerap sawit lokal, sehingga sektor perkebunan andalan ini tak terlalu bergantung pada permintaan luar negeri.

Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, tingkat kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) di Kalbar pada Desember 2020 kembali mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat NTP Kalbar pada bulan tersebut sebesar 117,01 poin, naik 1,77 persen dibanding NTP bulan November 2020 114,97 poin. Dari empat subsektor pertanian, NTP Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) tercatat paling tinggi, yakni sebesar 127,85 poin, lebih besar dibanding NTP bulan November 2020 124,75 poin. Subsektor lainnya, yakni NTP Tanaman Padi dan Palawija (NTPP) sebesar 96,67 poin, NTP Hortikultura (NTPH) 105,30 poin, NTP Peternakan (NTPT) 96,44, serta NTP Perikanan (NTPN) Desember 2020 103,90 poin.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendata ada kenaikan permintaan minyak kelapa sawit, baik untuk kebutuhan ekspor maupun dalam negeri.  Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sarjono mengatakan, ekspor produk minyak sawit bulan Oktober 2020 mencapai 3,028 juta ton naik 9,5 persen dibandingkan dengan bulan September dan secara nilai naik 10,7 persen menjadi USD2,073 miliar dari USD1,872 miliar pada bulan September.
 
"Kenaikan yang tinggi terjadi pada produk olahan minyak sawit menjadi 1.956 ribu ton dari 1.766 ribu ton pada September, dan produk oleokimia menjadi 408 ribu ton dari 313 ribu ton pada bulan September," tuturnya

Dia melanjutkan, secara YoY sampai dengan Oktober, volume ekspor 2020 memang masih lebih rendah 10,8 persen dari 2019, tetapi secara nilai lebih tinggi 14.8 persen. Menurutnya, hal ini  disebabkan harga rata rata bulanan sampai dengan Oktober pada tahun 2020 mencapai USD676 per ton dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai USD535 per ton (cif Rotterdam).

"Berdasarkan negara tujuan, lanjut dia, kenaikan ekspor tertinggi terjadi untuk tujuan India yang naik dari 351,95 ribu ton pada bulan September menjadi 481,69 ribu ton pada bulan Oktober, diikuti dengan ke USA yang naik 44,31 ribu ton menjadi 150,63 ribu ton," sebutnya.

Selain itu, terjadi kenaikan pada konsumsi untuk industri pangan sebesar 3,7 persen menjadi 692 ribu ton. Konsumsi pangan yang pada Oktober mencapai 667 ribu ton secara konsisten naik sejak bulan Juni, meskipun belum sama dengan sebelum pandemi covid yang pada Februari 2020 mencapai 786 ribu ton. Adapun konsumsi oleokimia mencapai 181 ribu ton, 22,5 persen lebih tinggi dari bulan September.

“Tren ekspor, konsumsi dalam negeri dan harga yang juga terus meningkat akan meningkatkan peran industri minyak sawit dalam perkonomian negara dan pendapatan pekebun,” tutupnya.