Jumat . 26 Februari 2021

Sawit Masuk Jajaran Lima Besar Penyumbang Devisa dan Pajak Ekspor di Kalbar

2021-01-23

Kontribusi komoditas sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) lewat aktivitas ekspor kian tampak nyata. Hal ini tercermin dari nilai devisa ekspor, hingga pengenaan bea keluar komoditas minyak nabati ini.

Direktorat Jenderal Bea Cukai (Kanwil DJBC) Kalbar mencatat bahwa sawit dan produk turunannya bahkan masuk dalam jajaran lima besar yang mencatat devisa ekspor tertinggi dan bea keluar.

Pada tahun 2020, bea keluar yang dicatatkan oleh komoditas minyak kelapa sawit dan fraksinya sebesar Rp5,890 miliar.  Sedangkankan nilai devisa yang dicatatkan dari komoditas CPO dan turunannya itu sebesar USD110 juta.

Kepala Seksi Pengolahan Data Kanwil DJBC Kalbagbar, Purba Sadi, melihat ada fenomena menarik dengan bergeliatnya ekspor komoditas pertanian ini.

"Yang menarik komoditas perkebunan ini, ada peningkatan," tutur dia.

Pendapatan dari pajak ekspor sawit di Kalbar dianggap jauh dari kata optimal lantaran ekspor dilakukan di pelabuhan ekspor yang ada di luar Kalbar. Padahal, Kalbar merupakan salah satu provinsi dengan produksi CPO terbesar di tanah air. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kalbar, produksi CPO Kalbar dalam satu tahun mencapai 4,02 juta ton.

Lantas angin segar datang seiring dengan segera beroperasinya Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalbar. Kabarnya, Maret 2021, pelabuhan internasional itu akan segera beroperasi. Hingga akhir September 2020, uji coba ekspor telah dilakukan sebanyak dua kali.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof Dr Eddy Suratman menilai, beroperasinya Pelabuhan Internasional Kijing, akan membuat mendorong perekonomian Kalbar.

“Mengingat banyak komoditas pertanian Kalbar dan produk turunannya yang berorientasi ekspor. Komoditas pertanian itu, seperti kelapa sawit, karet, serta kelapa. Di samping itu, beroperasinya pelabuhan tersebut, akan menarik investor,” kata dia.