Jumat . 26 Februari 2021

GAPKI Kalbar Himbau Anggotanya Siapkan Berbagai Strategi Cegah Karhutla

2021-02-22

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalbar mengimbau anggotanya perusahaan perkebunan kelapa sawit di di daerah itu agar melakukan berbagai strategi untuk mencegahan dan mengantisipasi potensi terjadinya kebakaran lahan di areal perkebunan. Berbagai upaya dipersiapkan dalam rangka pencegahan dan penanganan jika terjadi Kebakaran lahan.

“Secara organisasi sendiri, GAPKI Kalbar  sudah menyiapkan sejumlah langkah pencegahan terjadinya Karhutla. Langkah strategis yang kita lakukan baik untuk internal maupun ekstrenal. Namun untuk perusahaan anggota tetap kita dorong untuk memaksimalkan penanganannya,” ujar Ketua Gapki Cabang Kalbar, Purwati Munawir.

Ia menjelaskan secara internal para anggota wajib mematuhi peraturan atau perundangan yang berlaku dalam pencegahan karhutla melalui tata kelola kebun sesuai standar teknis.

“Sedangkan untuk secara eksternal, Gapki beserta anggota mengintensifkan pembinaan terhadap kelompok masyarakat yang sudah dibentuk sebelumnya yakni Masyarakat Peduli Api atau Desa Peduli api melalui patroli bersama,” kata dia.

Sementara itu, perusahaan dari Anggota GAPKI Kalbar,  Anelmus Achmad Supriyanto, Fire Prevention & Response Sinar Mas Agribusiness and Food mengatakan bahwa  di perusahaannya telah melakukan berbagai macam strategi guna mencegah kebakaran lahan, sekaligus penanganannya agar terkendali dengan baik. Dalam upaya pencegahan, perusahaan terus melakukan edukasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar kebun sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masing-masing unit usaha di Kalbar.

“Termasuk meningkatkan kapasitas tim yang mendapatkan pelatihan dari Manggala Agni,” ungkap dia.

Tak hanya penyiapan kapasitas SDM, sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pengendalian kebakaran lahan juga dipersiapkan secara lengkap. Selain itu, infrastruktur pembasahan lahan, mulai dari sekat kanal, menara pemanataun, hingga embung, juga dikondisikan agar bekerja secara optimal.

Perusahasahaan  juga mengembangkan sistem peringatan dini, dengan melakukan pemetaan daerah rawan kebakaran, serta pemeringkatan bahaya kebakaran, dengan melakukan pengukuran berdasarkan parameter di lapangan. Agar optimal, pihaknya juga mengembangkan sistem deteksi hotspot agar bisa mendapatkan informasi secara valid, serta dapat segera diverifikasi.

“Selanjutnya perusahaan juga melakukan deteksi taktis di lapangan, dengan melakukan patroli terpadu bersama Muspika Desa, serta menggelar apel siaga bersama pemerintah desa,” katanya.

Para petugas juga disiagakan agar dapat merespons secara cepat manakala terdeteksi hotspot, dan segera melakukan pengecekan maupun patroli. Upaya ini secepat mungkin dilakukan agar kebakaran tidak meluas. Adapun terhadap lahan yang terbakar, pihaknya juga telah menerapkan sistem agar terdokumentasi dengan baik area bekas terbakar, untuk kemudian dilakukan upaya-upaya pemulihan dan rehabilitasi.

Di sisi lain, pelibatan masyarakat dalam upaya penanganan kebakaran lahan juga dilakukan dengan mengembangkan kelompok masyarakat siaga api. Kelompok ini akan dibina dan dilatih agar memiliki kemampuan dalam melakukan upaya mencegah dan pengendalian kebakaran.

Pembinaan juga menyasar kelompok petani, terutama dalam rangka mengedukasi mereka agar bertani dengan ramah lingkungan, dengan tidak membakar lahan.

“Seluruh upaya tersebut dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan,” tuturnya

Anelmus melanjutkan, berdasarkan prakiraan BMKG, pada tahun ini, masih masuk dalam kategori La Nina, yang berarti memiliki curah hujan cukup tinggi. Dari prakiraan BMKG pula, kata dia, wilayah Sumatera maupun Kalimantan, akan memiliki musim kering yang relatif lebih pendek. Dirinya berharap prediksi itu benar, sebab semakin panjang musim kering, semakin besar pula potensi kebakaran hutan dan lahan.

“Kita semua berharap 2121 sama dengan 2020, yang mana musim kemarau periodenya relatif pendek. Kalaupun kemarau, sifatnya masih masuk kemarau basah,” ucapnya.

Meski begitu, antisipasi tetap dilakukan terutama ketika kondisi kering berlangsung panjang dan membuat suhu udara memanas. Terlebih ada beberapa wilayah yang terdata rawan kebakaran, seperti wilayah yang bergambut

Tantangan lain juga datang dari masyarakat yang masih menjalankan tradisi membuka lahan dengan cara membakar. Pembukaan lahan dengan cara dibakar memang telah diatur oleh Pemerintah Provinsi Kalbar melalui Peraturan Gubenrur Kalbar nomor 103 Tahun 2020 tentang Pembukaan Areal Lahan Pertanian Berbasis Kearifan Lokal. Dia berharap pergub ini tidak disalahartikan oleh masyarakat.

“Kami berharap aturan ini bisa disampaikan secara benar agar tidak disalahtafsirkan masyarakat,” harapnya.

Dalam pencegahan dan penanganan kebakaran lahan, pihaknya berharap dapat berkolaborasi secara optimal dengan para pihak, unsur pemerintah di tingkat tapak, polsek hingga koramil. Edukasi dan sosiaslisasi, ditekankannya juga menjadi poin penting dalam menjaga lahan perkebunan sawit dari kebakaran.