Minggu . 16 Mei 2021

GAPKI Kalbar Bersinergi Dorong Energi Biomassa dari Limbah Batang Sawit

2021-05-03

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Barat bersinergi dengan berbagai pihak dalam rangka pengemabngan biomassa energi. SInergi itu diwujudkan dengan digelarnya Rakornis Pembahasan Rancangan Provinsi Kalimantan Barat sebagai Calon Pilot Project Nasional Untuk Pengembangan Biomassa Energi, Jumat (30/4).

Gubernur Kalimantan Barat, diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Adi Yani dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut, dalam rangka pengembangan biomassa energi di Provinsi ini. Menurutnya, perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sektor andalan dalam pembangunan perekonomian.

“Pembangunan perkebunan sawit di Kalimantan diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur di daerah hingga ke level desa,” ungkapnya.

Di samping menunjukkan prospek hasil minyak nabati yang berlimpah, dia menyebut luasan kebun sawit ini juga memicu kekhawatiran melimpahnya batang sawit saat regenerasi kebun dilakukan. Potensi limbah batang kelapa sawit di Kalbar diperkirakan mencapai sebesar 1 juta batang kelapa sawit pada tahun 2020. Potensi terbesar berada di Kabupaten Sanggau, Landak, dan Bengkayang.

“Melihat data tersebut, Provinsi Kalimantan Barat memiliki potensi yang sangat besar dalam memanfaatkan limbah batang sawit sebagai sumber energi biomassa, berupa pelet biomassa (biopellet) yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan karena keunggulannya yaitu bersifat mudah terdegradasi dan dapat diperbaharui.

Meski prospektif, pemanfaatan limbah batang kelapa sawit sebagai pelet biomassa (biopellet) dari hasil peremajaan perkebunan sawit tersebut tidak mudah, dikarenakan banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh batang sawit dan membawanya keluar dari area perkebunan dan mengirim-kannya ke pabrik pengolahan pelet biomassa (biopellet).

“Akibatnya, nilai limbah batang kelapa sawit tersebut menjadi sangat mahal yaitu lebih dari Rp 350.000/m3,” tuturnya.

Di Kalbar, pada saat ini pasokan energi listrik sebagian besar masih tergantung pada pembangkit listrik tenaga disel (PLTD). Besarnya ketergantungan pada sumber energi bahan bakar minyak (BBM), mengakibatkan membengkaknya anggaran belanja negara untuk subsidi BBM. Buruknya pengaruh pembakaran BBM terhadap lingkungan juga menjadi faktor pendorong pengembangan teknologi dan sekaligus tantangan untuk mencari sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Untuk itulah, dia menilai energi alternatif melalui pengembangan biomassa dari limbah batang kelapa sawit harus menjadi perhatian semua pihak. Inovasi pemanfaatan limbah batang kelapa sawit merupakan salah satu solusi dan wujud nyata dari pembangunan yang berwawasan lingkungan sebagaimana salah satu misi pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yakni Mewujudkan Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Pemanfaatan limbah batang kelapa sawit juga secara langsung akan membantu Pemerintah Nasional untuk memenuhi kekurangan pasokan listrik di desa, sehingga terwujud kemandirian listrik ditingkat desa.

“Untuk itu, saya mendukung sepenuhnya Provinsi Kalimantan Barat sebagai Calon Pilot Project Nasional untuk Pengembangan Biomassa Energi,” pungkasnya.

Ketua Gapki Kalbar, Purwati menyambuat baik upaya mewujudkan energi alternatif melalui pengembangan biomassa dari limbah batang kelapa sawit. Kalbar sebagai salah satu provinsi dengan luas kebun sawit yang cukup besar, menurutnya bisa mengembangkan potensi biomassa ini.

“Tentu kami menyambut positif inovasi pemanfaatan limbah batang kelapa sawit dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di Kalbar,” ungkapnya.

Dia menyebuat saat ini sudah ada pengusaha yang siap menampung limbah batang sawit untuk kemudian diolah menjadi energi biomassa. Namun tentu saja untuk merealisasikan hal ini perlu kajian dari berbagai aspek, salah satunya dari aspek ekonomi.

“Kita nanti akan menghitung, berapa ongkos produksi, seperti biaya angkutnya ke pabrik pengolahan, berapa nilai ekonomi yang didapat dan lain sebagainya,” kata dia.

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero menyebut, ada banyak pohon sawit tua yang perlu diremajakan. Pohon-pohon tua yang akan ditebang untuk diganti tanaman yang baru tersebut menyisakan masalah, yakni limbah batang sawit. Selama ini, limbah batang sawit yang telah ditebang itu justru dibiarkan membusuk.

“Karena itu akan memberikan nilai ekonomi apabila limaba batang sawit ini diolah menjadi energi biomassa,” katanya.

Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko menilai energi dari biomassa merupakan solusi atas masalah krisis energi. Biomassa merupakan bahan organik yang berasal dari tumbuhan dan energi biomassa adalah jenis bahan bakar yang dibuat dengan mengkonversi bahan biologi dari tumbuhan, hewan dan mikroorganisme menjadi sumber energi. 

“Pemanfaatan batang kelapa sawit sebagai sumber energi memiliki potensi tinggi dan merupakan satu penerapan hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya.

Batang kelapa sawit yang sudah tua dan mencapai umur 25 tahun, saat ini belum dimanfaatkan dengan optimal, biasanya ditebang dan menjadi limbah atau disuntik bahan kimia sehingga mengalami pelapukan. Padahal sumber bahan baku batang kelapa sawit yang berlimpah merupakan potensi untuk menjadi sumber bahan baku energi.

“Oleh karena itu hasil penelitian Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura yang membuat produk energi biomassa dari batang kelapa sawit, memiliki arti penting sebagai bentuk perwujudan Tri Dharma Pendidikan Tinggi dan aplikasi hasil penelitian kepada masyarakat,” pungkasnya.