Selasa . 31 Januari 2023

Sawit Nyawa Ekonomi Kalbar

2023-01-14

Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Prof. Dr.Eddy Suratman, MA menilai saat ini perkebunan sawit menjadi lebel Provinsi Kalbar. Hal itu ini karena sudah menjadi nyawa ekonomi Kalbar.

Menurutnya, kehadiran perkebunan sawit saat ini bukan hanya diusahakan oleh perusahaan tetapi petani swadaya. Sehingga maju dan mundurnya ekonomi tidak terlepas dari peran perkebunan sawit.

"Untuk itu kebijakan terkait sawit harus dicermati jangan sampai mengganggu perekonomian kita. Kalau ada perkembangan pemintaan dunia menurun dan mendorong permintaan harga harus diperhatikan betul. Pemerintah daerah harus cermat betul perekonomian dan kebijakan menjaga stabilisasi sawit. Stabilitas harga bisa menjaga ekonomi Kalbar," kata dia.

Eddy menambahkan, sawit bakal menjadi komoditi bagi hasil dan Kalbar sangat diuntungkan sebagai daerah penghasil.

"Jika Peraturan Pemerintah (PP) dana bagi hasil itu terealisasi pada 2023, akan ada tambahan pendapatan daerah di Kalbar. Berharap pemerintah provinsi dan kabupaten bisa memanfaatkan ini untuk kemajuan petani dan daerah," jelas dia.

Dengan adanya regulisasi tersebut Eddy mengatakan harus terus dicermati dari PP dana bagi hasil baik itu bagaimana hasilnya apakah berdasarkan luas kebun, produksi atau kombinasi luas dan produksi.

“Kemudian cermati, bagaimana keuangannya untuk masuk provinsi dan kabupaten,” papar dia.

Terkait kebijakan pembatasan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan mandatori program campuran biodiesel 35 persen (B35), Eddy menilai bisa menguntungkan petani sawit di Kalbar.

"Kebijakan yang ada sudah diperhitungkan pemerintah. Pembatasan CPO sangat baik yang juga sejalan dengan B35 di mana membutuhkan minyak mentah sawit tersebut dalam jumlah cukup besar. Kebijakan yang ada bisa menstabilkan harga dan petani tentu diuntungkan," katanya.